Bangkalan Musim Buah

0
173

Beritana.com – Bangkalan baru-baru ini musim buah, khususnya buah durian dan rambutan yang memang tumbuh subur di kawasan kecamatan Geger dan tanah merah, durian juga tumbuh subur dikawasan desa amparaan, kokop. Jika kita lewat di dua kecamatan tersebut maka akan menemukan pemandangan buah rambutan yang berwarna merah segar, begitu menggiurkan. Juga, akan mendapati pedagang di pinggir jalan menyediakan aneka ukuran durian, mulai yang besar, kisaran harga 50-an sampai yang kecil, seharga 20-an, dan, sambil mengendara kita juga akan di manja semerbak aroma durian yang nikmat, kata sebagian orang. Jadi, merugilah berkunjung ke bangkalan tanpa menyantap durian dan rambutan.

Tapi, bukan buah itu lah yang menjadi pokok pembahasan pada tulisan ini, melainkan terdapat buah unik yang bergelantungan dipohon-pohon, pohon apa pun itu, sekaligus tiang listrik dan tiang lampu lalu lintas yang seharusnya tidak berbuah, saya dapati berbuah juga di tahun 2018 ini. Buah itu adalah poster atau sepanduk pasangan calon bupati bangkalan. Terdapat tiga calon yang secara resmi diterima pendaftarannya sebagai cabup 2018. Bukan lagi pandangan yang janggal bagi masyarakat bangkalan, melihati pohon-pohon berbuah, baik kecil atau pun besar, poster-poster paslon bupati. Di setiap jengkal tanah pinggir jalan pasti akan di dapati pemandangan itu. Bangkalan memang unik.

Hal seperti di atas bukan lah baru, apalagi 2018 ini memang merupakan tahun pesta demokrasi lima tahunan. Sudah barang pasti setiap paslon unjuk kebolehan baik di medsos, dalam bentuk kampanye atau poster-poster seperti tertulis di atas untuk menarik hati masyarakat agar supaya memilih si calon nantinya.

Bangkalan kali ini memiliki tiga kekuatan politik dengan semboyan yang begitu meyakinkan, Ra latif dengan semboyannya “bangkalan sejahtera”, H.M. Farid dengan semboyan “bangkalan berani bangkit”, Ra Imam “Bangkalan beriman”. Dari sekian semboyan atau jargon sangatlah meyakinkan dan begitu yakin untuk membawa bangkalan lebih baik. Namun apalah arti kata-kata tanpa bukti nyata. Apalagi itu memang saat-saat mencari masa sebanyak mungkin supaya dapat memenangkan kontestasi pilkada nanti, jadi memang harus senantiasa di rasa madu meski sejatinya, terkadang, mawar, indah di mata pahit dirasa.

Di pilkada kali ini, masyarakat dengan sangat berharap nantinya akan mendapatkan pemimpin bangkalan yang ideal, adil, bijak, dermawan, santun, tegas, parofesional, totalitas, dan loyal terhadap masyarakat bawah seperti saya, bukan malah hanya merangkul para pembesar demi menutupi kepentingan busuknya. Di sini diperlukan kesadaran dua sisi, pelaku dan objek untuk tidak berlaku curang dalam peroses pemilihan atau setelah terpilih nantinya.

Jadi, teruntuk saudara-saudaraku sesama rakyat bangkalan, tentukan lah mulai sekarang pilihan yang murni dari hati karena kejujuran si calon, bukan karena si calon memberi uang sekian ribu. Karena pilihan masing-masing kita adalah taruhan untuk lima tahun lamanya. Apakah cukup sekian ribu untuk lima tahun, tentu tidak. Sudah bisa ditebak jika ada salah satu pasangan calon memberi kita uang, meski dengan dalih sebagai sadaqah, itu merupakan sogokkan. Perlu dipertanyakan bukan. Kenapa pas mau pemilihan baru bersedekah? Dari kemaren kemana saja?
Mumpung sekarang belum terlambat, masih musim buah, pandangi lah lakat-lakat buah yang ada di tiang listik, tiang lampu lalu lintas dan di pohoh-pohon yang biasanya tidak berbuah, kenali latar masing-masing calon. Jika di pandang layak untuk memegang tampuk kepemimpinan bangkalan. Pilih lah ia. Pemilih cerdas. Pemilu berkualitas. Terimakasih. Semoga bermanfaat.

Oleh: Syamsul Hadi, Kampus Sekolah Tinggi Ilmu Usuluddin Darussalam