Beda, Bersaudara

0
193

Beritana.com, Opini – “Jika kalian berselisih dalam suatu masalah, maka kembalikanlah kepada Allah dan Rasulnya” Kutipan terjemahan Alquran surat An-nisa’: 59. Setiap kali kita menemukan suatu permasalahan yang angil memecahkannya, rujuk lah Alquran sebagai solusinya. Jika tidak ditemukan secara tertulis jawaban atau jalan keluar masalah tersebut, sekali lagi kembalilah kepada Alquran.

Baru-baru ini yang terjadi adalah pergesekan dan percekcokan antar sesama Muslim. Muslim yang seyogianya bersatu, memperkokoh pertahanan dari serangan orientalis, mempererat persaudaraan sesama muslim (ukhuwah islamiyah) malah terpecah belah, saling acung tangan bernar-membenarkan dan saling tunjuk saudara salah-menyalahkan. Bukan Islam yang mereka bawa duduk bersandingan, melainkan kepentingan antar kelompok masing-masing, takut kalah dengan kelompok yang lain.

Lah, bukannya dari sekian banyak kelompok Islam sama-sama merujuk kepada Alquran sebagaimana kutipan ayat di atas?. Jawabannya iya. Namun, lantas kepana mereka masih berpecah? Yaitu lantaran proses atau cara mereka merujuk atau kembali kepada Alquran berfareasi berbeda-beda. Sehingga, meskipun muara pelbagai permasalahannya adalah Alquran dan Sunah, dengan perbedaan cara tersebut, menjadi berwarna-warni hasil kesimpulan pada akhirnya.

Bukannya, dalam hadis sudah dikatakan, ikhtilafu ummati rohmatun (perbedaan di tengah-tengah ummatku adalah rahmat). Meskipun hadis tersebut tidak cukup kuat (dilihat dari kacamata studi hadis) untuk dijadikan hujjah atau argumen, tapi melihat realitas yang ada bahwa perbedaan memang merupakan keindahan. Jelas berbeda suatu taman dengan bunga yang berwarna warni, dengan taman yang hanya terdapat di dalamnya satu bunga saja.

Seorang terpelajar, akademisi, atau seorang yang adil (dalam istilah Pramoedya Ananta Toer) harus sudah berperilaku adil semenjak dalam pikiran apalagi dalam perilaku, perbuatan. Jangan jadikan perbedaan sebagai permasalahan, perpecahan, perselisihan apalagi sebagai percekcokan. Jadikan lah perbedaan suatu kekayaan dan keindahan (guru penulis, Kh. Shinwani Sholeh Adra’i, B.A)

Dalam ayat lain “berpegang teguhlah dengan tali (syariat) Allah, dan jangan berpecah belah”. Dua pesan yang dapat dipetik dari ayat di atas. Perama, tetap dalam persatuan persaudaraan dengan kesamaan pandangan. Kedua, tetap bersatu lah dalam perbedaan (wala tafarraqu). Kiranya sudah adil, dengan sejalannya pandangan, kita bersatu, perbedaan pandangan atau pendapat, kita pun tetap bersatu, yaitu bersatu di bawah bendera Islam. Aduhai betapa indahnya hidup jika dapat memahami dan mengimplememtasikan ayat di atas. Seringkali penulis dapati dalam artikel-artikel atau buku, sebuah kehawatiran permasalahan di atas, yaitu perbedaan yang memecah belah, adalah suatu upaya non-muslim untuk secara perlahan ingin menghancurkan Islam dengan cara merusak persaudaraan dari internal umat Islam sendiri. Dalam sejarah runtuhnya beradaban Islam, tidak murni karena kekalahan secara gencatan senjata. Tapi sebelum itu, siasat non-muslim yaitu dengan memecah belah persaudaraan umat Islam itu sendiri. Dengan berpecah belahnya umat Islam, kekuatan pertahanan semakin kendur, melemah, pada akhirnya kalah dalam perang Mungol. Penulis hawatir, problema yang terjadi di sekitar penukis, khususnya, dan yang terjadi di Indonesia, pada khususnya, merupakam bagian siasat non muslim untuk meruntuhkan umat mayoritas di Indonesia ini. Tidak ada niatan untuk ber-su’tdzan kepada non muslim, itu sekedar refleksi untuk lebih berhati-hati dan waspada, sekaligus untuk tetap berusaha dan berupaya mempererat persaudaraan.

“Bersatu kita kuat. Bersama kita hebat” (Bondan)

Oleh : Syamsul Hadi, mahasiswa STIUDA Pakong Modung Bangkalan