Apa Untungnya Bercadar ?

0
183

Beritana.com, Opini – Sudah Menjadi persoalan akut sehelai kain yang digunakan untuk menutupi wajah wanita atau yang lebih dikenal dengan sebutan cadar. Pro dan kontra dikalangan masyarakat terutama akademisi masih saja menjadi perbincangan hangat dalam lingkaran diskusi. Meski menuai kritik, substansi mengenakan maupun melepaskan cadar tidak mengurangi nilai ubudiyah yang dapat merusak keimanan dan ketakwaan seseorang. Sehingga yang perlu diperhatikan kemaslahatan bercadar. Sebab Kemaslahatan dalam kondisi dan situasi apapun tetap menjadi prioritas perihal menjunjung tinggi kebaikan, selagi tidak melanggar ketentuan hukum tuhan maupun ketentuan hukum negara.

Membahas cadar membutuhkan dasar dan patokan-patokan agar tidak melebar dari substansi pembahasan. Untuk sampai pada substansi, tentu membutuhkan pengantar awal munculnya cadar. Dalam sejarahnya, cadar bukan bagian ajaran agama, melainkan sebuah kebudayaan bangsa persia kuno, pendapat ini dikemukakan ulama kontemporer Iran murtadha mutahhari dalam bukunya Gaya Hidup Wanita Islam dan M. Qurash Shihab dalam karyanya Jilbab Pakaian Wanita Muslimat.

Bagi penganut agama Zardasyt persia kuno, cadar merupakan keharusan bagi wanita saat acara ritual-ritual keagamaan, karena dianggap sebagai makhluk tidak suci. Sehingga wanita pada masa itu diharuskan menutupi hidung dan nafasnya, dikhuatirkan mengotori api suci yang menjadi sesembahan. Sedangkan di jazirah Arabiah, cadar muncul ketika awal masuknya islam untuk mengatur tingkah laku wanita pada masa jahiliyah yang sering bersolek saat berjalan didepan para laki-laki untuk mendapat perhatian. Selain itu cadar sudah menjadi kebiasaan sehari hari masyarakat jazirah Arab guna menutup muka agar terhindar dari hembusan padang pasir.

Dari sejarah yang telah dikemukakan, dapat dipetik pelajaran, cadar bukan bagian dari ajaran agama islam. Jika cadar yang dikenakan oleh wanita saat ini untuk menjaga pandangan beda jenis, cadar memiliki substansi yang berbeda. Namun tuhan menyediakan cara lebih efisien menjaga pandangan dari pada cadar, yakni dengan menahan pandangan dan memelihara kemaluan
“katakanlah kepada laki-laki yang beriman: hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya, yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka”( QS. An_Nuur: 30-31).

Ibrah yang penulis pahami dari QS. An_Nuur tersebut, bahwa yang perlu dijaga dalam pandangan adalah tatapan pada lawan jenis, bukan menjaga dari tatapan lawan jenis, sebab wanita dan laki-laki lebih bermartabat menjaga pandangan pada orang lain, dari pada menjaga pandangan dari orang lain. Oleh karena itu cadar tidak dapat di jadikan tolok ukur sebagai wanita paling berhati-hati dari terjadi fitnah pandangan. Bahkan wanita lebih cantik dan sempurna tanpa cadar. Karena ciptaanNya lebih tampak sempurna.

Selain tidak termasuk anjuran dalam islam, cadar bukan solusi yang di tawarkan tuhan bagi wanita muslimah untuk menjaga pandangannya, maka mengenakan tidak dapat dijadikan manifestasi ketaqwaan pada tuhan. Lalu apa untungnya bercadar? Ketika wawancara dengan beberapa mahasiswi Fakultas dakwah dan komunikasi UINSA. Cadar lebih dapat menjaga dirinya dari fitnah fitnah lawan jenis ” Dengan bercadar saya dapat menjaga pandangan pada lain mahram, dan lebih menjaga kesucian diri saya” pungkas sambil memperbaiki cadarnya

Terkait pelarangan bercadar di area kampus bagi mahasiswi disalah satu kampus ternama di Jawa Tengah, amat rasional demi menjaga marwah perguruan tinggi serta tuduhan subversif yang dilakukan kelompok tertentu. Pelarangan sebagai upaya meminimalisir lahirnya kelompok ekstrim yang bermunculan dengan nama dan gerakan versi baru. Sehingga seluruh civitas akademika tidak menimbulkan kecurigaan satu sama lain. Tetapi pengawalan dan perlawanan lebih kuat untuk menolak Ketetapan rektor tersebut, dengan alasan kelompok ekstrim tidak dapat disimpulkan dengan sehelai kain.

Oleh: Abbas, Mahasiswa UINSA